5 Oktober 2010

Dialog Antara Cinta Dan Rindu

Tulisan ini aku persembahkan untuk rindu yang selalu berhasil membuat logikaku terpenjara dan tak berdaya
---===( Orang tak dikenal )===---

(Cinta)
Entah apa yang sedang aku lakukan, aku rasai dan aku dengar, aku lihat, aku tidak tahu tapi aku ingin tahu dan tetep tidak tahu. Dalam masa bodoh aku tidak merasai apapun kecuali betapa pedihnya merindu. Aku tidak tuli tapi semua yang terdengar olehku adalah kabar tentangmu, aku juga tidak buta tapi mengapa yang aku lihat hanyalah bayangan tentangmu ,,,,dan semua yang aku lakukan terlaksana tanpa terasa di alam fikirku.

(Rindu)
Wahai cinta, yang sedang kamu dekap adalah aku, yang kau rasa juga aku, yang kau lihat pun semua seolah aku, kau tau tapi lebih memilih untuk tidak tahu-menahu, sebab penasaran adalah kenikmatan yang tak terkira. Dalam masa sadar aku hanya merasa bahwa aku telah tidak ada, yang ada hanyalah cinta. Aku tidaklah mampu mendengar ucapan dalam hatimu, tapi dapat aku fahami, layaknya melihat asap, pastilah ada api. Aku tak pernah melihat cinta, namun aku tetap tahu itu kamu.

(Cinta)
Katanya aku sedang berperan untuk memainkan tugas dalam pembabakan alur sandiwara yaitu untuk merindu dan pada hati yang mendamba, sakiiiit ,,,,sekali, tapi aku harus mampu menikmati untuk meloloskan satu peran dan menuju babak selanjutnya. Sakiiit sekali dan aku terluka tanpa setetes darah dan itu manusiawi sekali dirasa anak manusia yang merindu dan mendamba.

(Rindu)
Aku tak merasa sakit jika itu demi engkau cinta, Seberat apapun itu aku masih punya harapan, semakin aku merasa sakit, semakin aku tahu harga sebuah kesehatan, ah kau cinta, aku tak ingin lolos sepertimu, tapi aku ingin lulus dalam ujian akhir ini, sebentar lagi aku akan pulang, dan ketemu cintaku, betapa tak akan kurasa duri-duri yang menusuk hatiku, jika aku sudah bisa melihat kilau wajah cinta didepan sana.

(Cinta)
Aku biarkan kenyataan-kenyataan berbenturan dan membentur hari-hariku yang terpenjara logika, inilah yang mesti aku syukuri pada hamba yang masih dianugerahi untuk merindu dan mendamba dan rindu yang aku rasakan di setiap lorong waktu adalah pembebasan belenggu berat dunia untuk melanjutkan dan mengetahui seberapa jauh pengembaraan spiritualku yaitu kekosongan-kekosongan hidup, pada cinta adalah yang menyemarakkan dan aku rasakan kedamaian di sana.

(Rindu)
Cinta, kau memang penentang logika, kau selalu saja menjadi pendusta, bersembunyi dengan pura-pura sholat dhuha, Ah kau cinta, selalu saja kau bawa dirimu dalam madu-madu kehidupan yang fana, oh... andai saja aku tak mengenal cinta, tentulah aku jadi malaikat yang tak pernah berdusta dan berdosa, aku hanya takut engkau banting aku dalam jurang cinta yang hina, yang tak kan pernah ada damai bersahabat dengan hina.

(Cinta)
Haruskah aku mengorbankan kerinduan ini dan mencampakkannya ke dasar keegoan yang tak jelas arahnya, bukankah kerinduan yang Engkau cipta untukku lewat cinta adalah rantai kehidupan yang pada masanya ingin dinampakkan dan ingin di akui keberadaannya.

(Rindu)
Ingin rasanya kulempar engkau keluar angkasa memoriku, namun lagi-lagi aku manusia, ah betapa perasaan iba merengek minta dimanja, sedangkan engkau cinta, seperti anak kecil yang tak mengerti betapa susahnya menjadi orang tua dengan rasa sayangnya.

(Cinta)
Aku manusia biasa, maka tak kuasa bagiku mencampakkan dan menafikan bagian hidup tentang rinduku. Ketidakmampuanku akan itu membuat aku pasrah seperti cadas yang menyerahkan kehidupannya antara deburan samudera penuh keyakinan, bagaimanapun hebatnya deburan samudera tetap tahu saat bahtera bernahkoda.

(Rindu)
Aku biasa menjadi manusia, yang sering pula tertipu atas nama para cinta. Kekuatanku akan nyata ketika aku menyerah dihadapan sang Esa, ketenangan samudera bukanlah tepat untuk mengukur kehebatan pelautnya, tenggelam pun lebih baik, dari pada terapung tanpa makna.

(Cinta)
Aku tidak akan mampu menulis yang sedemikian menyakitkan kalau bukan hari-hariku telah tersemat untuk menjadikan cinta sumber inspirasi di alam imajinasi bebasku,,,sakiiiiittt,,,,sakiiit. Aku biarkan dan aku berharap semua akan bebas tepat pada waktunya. Menunggu waktu,,,!!!1

(Rindu)
Kata orang, sakit tak akan sembuh ketika sakit belum mencapai klimaksnya, puaskanlah hatimu wahai sakit, pasti akan ku temui perpisahan denganmu sementara ataupun selamanya. Yach...aku menunggu waktu, tapi aku tak mau menyia-nyiakan waktuku walau aku sedang sakit, sebab tak ku tunggu pun waktu akan menjemput.

(Cinta)
Aku tidak mampu berbicara apapun dan tidak mampu menjawab mengapa aku seperti ini?, kecuali hal yang dapat aku rasai dan semua manusia memfasilitasi dengan berbagai definisi yang pada muaranya hanya satu yaitu merindu. Rindu yang terucap lewat bibirku yang terbasahi kalimat-kalimat penuh desah dan aku tulis untuk cinta, bagiku tak sebegitu penting untuk didengarkan ada yang lebih penting yaitu perjumpaan yang mampu menyadarkan aku dari lamunan panjangku.

(Rindu)
Yach kau cinta, mengharap ucapmu saja ibarat menunggu gamelan bergema, aku dapat rasai dan dengar suara-suara batinmu yang kau coretkan pada sikap dan tingkah laku bidadari yang sedang merindukan pasangannya. Manusia hanya akan menjadi burung yang bersuara membawa kabar yang belum tentu kebenarannya. Ingatlah cinta, jika kau hendak menemui rindumu, jagalah istana dari kudeta.

(Cinta)
Dilematis tapi...!!!semoga aku tetap mampu mencipta suasana dari kondisi batinku yang hanya merindu adalah motivasi bagiku untuk melanjutkan separuh alur kehidupanku, di sana aku gantungkan cita-cita. Karena aku tidak ingin latah dan mengucapkan kata sia-sia akan alur kehidupanku yang tersemat atas nama cinta dan bersama riak-riak yang tersisa aku dongakkan kepala di tengah keheningan yaitu tatkala para sundal menjadikan malam tempat bekerja dan aku menikmati kehidupanku, aku mengemis pada Tuhan suatu hari nanti moga aku dapat mengambil manfaat dari alur kehidupanku dan aku berbagi.

(Rindu)
Fantastis memang..alur kehidupan manusia tak akan pernah sama, sebab setiap sosok akan menciptakan alur bagi dirinya, timbul-tenggelamku dalam samudera kegelapan yang menjadi sahabat selama aku masih berindera adalah kehidupan yang bisa sirna.

(Cinta)
Semua yang aku lakukan, rasai semata hanya tugas yaitu antara manusiawiku dan kehendak_Nya yang tidak dapat aku elakkan atau hentikan meskipun aku telah payah kiranya perjalanan takdir kereta api tidak dapat diajak kompromi meski menyaksikanku melamun di atas rel kenyataan dan waktu tetap berjalan membawa perubahan........

(Rindu)
Jika hendaknya waktu memberhentikan laju kereta, perubahan pun akan dapat kurasa, betapa berat membawa engkau cinta, kenapa engkau tak berusaha berjalan bebas dari punggung hatiku yang berlumur dosa, begitu tegakah engkau mempermalukanku dihadapan sang Esa dengan berbagai kotoran yang kau sampaikan dengan nada dusta.

(Cinta)
Teruntuk yang mencinta,,,merindu,,,terluka,,,,tersakiti dan tetap ada untuk cinta,,,,,!!!!!

(Rintu)
Teruntuk para pecinta, perindu, peluka, maupun penyakit, sadarlah bahwa sebentar lagi fajar telah tiba.

(Cinta)
Yaqinlah cinta tidak harus ikut mati tatkala tersakiti,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,karena kita tidak sendiri bagi yang tersakiti,,,????dan atas nama cinta kita tetap menunggu, menanti jawaban pastiiiii..

(Rindu)
Atas nama rindu, kita pasti akan ketemu entah disini atau dialam baru, kau takkan mati cinta, mungkin hanya menyiksa rindu yang membara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar