Malam itu kuterbangun. Ditengah gelapnya malam kembali kuterisak. Lagi lagi kenyataan ini membuatku menangis. Menangisi mimpi yang tak mungkin
Tertatih
kuberjalan kepinggiran jendela.angin yang dingin menusuk kulit segera
menyambutku, mengibaskan helai demi helai rambutku yang kini mulai berguguran.
Ya.. Sakit ini. Sakit yang selalu menghantuiku.
Air mataku
kembali berlinang. Ditengah kedinginan yang menusuk kembali kuterisak.ditengah
isakan tangis kutatap langit, seandainya saja aku dapat seperti bulan yang tak
pernah sendiri, yang selalu ditemani cahaya indahnya yang menghiasi malam.
Kicau burung
kecil menarik perhatianku, kucoba untuk mencari asal suara itu namun tak
kutemukan kau disana. Kau! Justru kau yang kutemukan ditengah gerimis yang kini
mulai turun. Tersenyum. Kulihat kau tersenyum bersama seorang wanita yang terlihat
begitu sempurna.
Tangisku pecah.
Tak mampu lagi kutahan pedih dihatiku. Kenapa? Kenapa bukan aku wanita yang
tersenyum bersamamu?kenapa harus dia? Kenapa bukan aku saja? Dalam diam
kumerintih, berusaha untuk menyembuhkan luka dihatiku.
Tertatih
kuberusaha untuk menyentuhmu, namun kuterjatuh. Dan kau... Kau hanya diam. Menatapku
dengan sorot mata penuh kebencian. Aku menunduk, kembali menangis, disela
tangisku aku merintih. Memohon sedikit kebaikan hatimu untuk menolongku.
Kembali kau terdiam menatapku seolah olah kau merasa jijik kepadaku. Terpaku.
Hanya dapat terpaku. Sebegitu hinakah aku hingga kau begitu jijik melihatku?
Seandainya saja
kau mengerti. Bagaimana aku mengagumimu, menyayangimu, bahkan mencintaimu.
Dalam. Begitu dalam rasaku ini. Mengertilah. Kumohon.
Tetes demi tetes
air mataku mengalir membasahi pipiku. Begitu perih luka yang kau tinggalkan
dihati ini. Menangis kumerintih. Tapi kau justru pergi meninggalkan kusendiri.
Sendiri ditengah malam yang basah dan dingin. Dan hanya ditemani oleh tetes air
mata yang terus mengalir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar